Cerita dari Ketaon - Purworejo

Beberapa hari ini saya tengah menikmati hari-hari saya di rumah nenek saya, di salah satu desa wilayah Jawa Tengah. Ketaon, nama desanya. Bagaimana sih cerita tentang Desa Ketaon?
Ketika Berkumpul
Yang Aku Tahu Itulah Namanya
RUMAH
Mungkin banyak yang kurang atau bahkan ngga tahu ada sebuah desa di Jawa Tengah yang bernama Ketaon. Tunggu-tunggu, ternyata emang pasti kalian ngga tahu. Soalnya ternyata ngga ada juga di Google. Well, tanpa perlu panjang-panjang lagi biar saya jelaskan mengenai Desa Ketaon yang masuk di wilayah Kelurahan Girijoyo Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.


Daddy's Little Girl
With The Beast - Menuju Desa Ketaon



Secara geografis, Ketaon ini berada 30 sampai 100 meter di atas permukaan laut. Lingkungan sekitarnya terdiri dari perbukitan dan persawahan. Tak hanya itu, Desa Ketaon juga dialiri oleh dua aliran sungai. Yang pertama, adalah sungai yang berasal dari wilayah Kecamatan Bruno dan yang kedua berasal dari wilayah Wonosobo. Bisa dibilang cuaca di desa ini sangat nyaman, karena udaranya sejuk jadi tidak perlu boros pakai AC. Mungkin untuk warga Jakarta, sebagai gambaran kondisi cuaca Ketaon itu hampir sama dengan Puncak, Jawa Barat. Adem-adem empuk, cocok buat yang pingin runaway atau lari dari kesibukan kerja. Selain itu, cocok juga buat yang mungkin pingin terapi ketergantungan gadget karena jangan harap smartphone kalian ada sinyalnya. Tapi jangan khawatir, sinyal buat handphone lawas masih aman kok, bisa buat telepon atau sms (biarpun ngga di semua tempat). Eh, tapi bukan mau iklan sih, cuma provider yang aman buat di Ketaon ini, ya Telkomsel doang. Jadi kalau pake Telkomsel, ya, masih bisa lah buka Whatsapp biarpun kalau ngirim lama banget atau bahkan sampai kelupaan tadi pesannya udah terkirim atau belum ya? 


Pemandangan Alam
Sekitar Desa Ketaon, Girijoyo - Kemiri
Purworejo, Jateng
Masyarakat Desa Ketaon ini, mayoritas berprofesi sebagai buruh, buruh tani, petani, pedagang, dan pegawai negeri. Di desa ini, ada tradisi unik. Setiap ada acara, maka semua warga akan berbondong-bondong (terutama keluarga yang punya acara) melaksanakan 'lagan' atau 'rewang' yang artinya bantu-bantu. Jadi ngga perlu deh tuh, pakai katering buat masak. Cukup beli bahan, terus dimasak bareng-bareng. Gotong royong. Biasanya ngga cuma ibu-ibu aja, tapi bapak-bapak juga. Termasuk buat jenang, atau yang biasa dibilang dodol. Makanan yang warnanya coklat, rasanya manis legit. Semua bapak-bapak akan dengan suka cita membantu, ada yang tugasnya mengaduk, ada yang tugasnya mencampur, atau ada yang cuma ngincipin aja, apa malah cuma datang terus ngobrol sambil udud, abis itu pulang deh. Bahkan ada sampai ada yang rela batalin acara dan pas ditelpon, dengan santainya cuma dijawab, "aku ra iso teko, iki lagi njenang." atau "sesok wae lah, aku lagi lagan." padahal di sana cuman duduk-duduk sambil nongkrong aja. Tapi di situlah, maknanya kebersamaan masih sangat kental. 
Jenang Alias Dodol
Harus Ada di Setiap Acara Besar
Bapak Bapak Asik Mencetak Dodol
(Mbah Kyai Mustofa Serius Amat, Mbah)
Memindahkan Dodol Yang Sudah Matang
Wajan & Santan Untuk Membuat Jenang
Aduk Terus, Bro
(Mengaduk Santan Tentunya Sambil Ngobrol)
This is Spartaaaa!!
(Mbah Kyai Mustofa Membersihkan Wajan Bekas Jenang
dan Wajannya Sangat Panas)
Kegiatan Memeras Santan
(Masih Dengan Bapak-Bapak)


Bahas geografis udah, bahas sinyal handphone udah, nah, sekarang sejarahnya. Kenapa sih kok namanya Ketaon? Aneh ya? Apa karena banyak tawonnya? Hmm.. Ternyata bukan. Menurut Kikin, alias bapak saya, yang asli lahiran Ketaon dan kebetulan menguasai sejarah dan termasuk orang yang mendalami tentang sejarah dan budaya, Ketaon berasal dari kata 'Ketau' dan kata ini berasal dari nama seorang Kyai yang sebagai cikal bakal (re : babad alas) desa Ketaon. Kyai ini bernama Kyai Tau. Konon, beliau adalah seorang keturunan muslim-tionghoa. Mungkin, zaman dulu karena susah bilang Ketau, akhirnya lama-lama warga sini biasa bilang Ketaon bukan Ketau. Tapi sayangnya, warga Ketaon ternyata juga kurang memahami asal-usul desanya sendiri. Sangat disayangkan, hanya segilintir orang yang tahu mengenai asal-usul desa Ketaon. Oh iya, tak hanya Kyai Tau. Ada juga kisah tentang Simbah Kyai Surowiloyo. Simbah Kyai Surowiloyo bisa disebut sebagai leluhur atau punden desa ini. Nah, panjang kan yaaaa. Lumayan buat belajar sejarah, biar anak muda juga tahu sejarah bukan cuma bisanya ngikutin perkembangan modern aja. 

Siapa itu Mbah Kyai Surowiloyo? Konon, beliau adalah seorang keturunan dari Kraton Mataram atau yang sekarang lebih dikenal dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (singkat : Kraton Yogyakarta). Awalnya, kehadiran Mbah Kyai Surowiloyo ke Desa Ketaon yang saat itu masih merupakan desa kecil yang dikelilingi hutan lebat karena bertujuan untuk melakukan tapa brata (re: topo broto) yang sekaligus juga untuk menyebarkan agama Islam, mengajarkan ilmu Kanuragan (kebatinan), dan mengajarkan pertanian yang hasilnya bisa dinikmati warga desa Ketaon hingga saat ini. Masyarakat Desa Ketaon sudah menganggap Mbah Kyai Surowiloyo ini adalah leluhur mereka sendiri. Uniknya, dengan jumlah sekitar 150 KK, percaya tidak percaya, mereka semua memiliki hubungan ikatan darah.  


Masyarakat desa ini, hingga sekarang juga masih sangat menghormati Mbah Kyai Surowiloyo. Hal ini, mereka tunjukkan dengan cara mengunjungi makam beliau ketika hendak mengadakan suatu acara atau hajatan, baik acara pribadi maupun acara desa. Bahkan disebut sebagai "WAJIB HUKUMNYA" untuk berziarah atau di sana orang menyebutnya 'bersih'. Bila tidak melaksanakan tradisi atau kebiasaan ini, maka yang terjadi adalah anggota keluarga yang punya hajat atau bahkan yang mengadakan hajatan tersebut akan kesurupan (okay, ini serem juga) atau menjadi sakit-sakitan. Ini kisah nyata loh, karena ada yang pernah mengalami hal ini. Calon pengantin mendadak kesurupan karena diketahui sebelum acara berlangsung, keluarganya tidak melaksanakan tradisi yang sudah ada dengan benar.


Renovasi Makam
Mbah Kyai Surowiloyo


Berkaitan dengan yang horor-horor, ternyata Desa Ketaon juga memiliki aturan tidak boleh mengadakan pentas seni kuda lumping. Kenapa? Tidak alasan pasti, tapi yang pasti aturan ini sudah dilakukan secara turun menurun hingga sekarang dan tidak ada yang berani untuk melanggar. Selain kuda lumping, ada juga nih yang horor dari Desa Ketaon, setiap akan ada orang meninggal pasti akan didahului dengan beberapa tanda. Karena tanda yang muncul tidak selalu sama, tapi orang asli sana pasti sudah paham bahwa tanda yang muncul membawa berita yang tidak baik. Misalnya ditandai dengan suara burung. Orang asli Desa Ketaon menyebut burung ini, dengan sebutan burung Wek sesuai dengan bunyinya 'Wek... Wek... Wek...' biasanya bunyi ini terdegar selama 3 malam berturut-turut. Ini yang lebih seram dan ekstrim (menurut saya, karena saya pernah alami sendiri), ketika akan ada orang yang meninggal terdengar suara ledakan atau tangisan di area makam yang tidak terlalu jauh dari pemukiman warga. Tangisan terdengar cukup riuh karena konon semua yang dikuburan tersebut menangis karena akan ada warga Desa Ketaon yang bergabung dengan mereka. Siapa pun yang mendengar dijamin ngga akan berani pake headset atau sendirian di rumah selama seminggu karena serem banget. Ngalahin film horror Thailand.

HIIY ANGKER..!
Lanjut ah, jangan cerita horor terus! 

Kita lanjut ke hasil pertanian Desa Ketaon, karena kebanyakan masyarakat Ketaon bekerja sebagai petani atau buruh tani. Desa ini memiliki hasil tani atau kebun yang beragam, seperti kelapa yang biasa disebut kambil atau krambil, pete, melinjo, jengkol, mangga, rambutan, dan yang menjadi primadona adalah DURIAN! atau yang disebut kebanyakan bule atau orang luar negeri sebagai makanan yang paling menjijikan karena sangat bau, bahkan ada yang bilang baunya seperti bau jempol kaki. Are you kidding me, bro? Itu surga dunia kali! Sayangnya, saat saya menulis blog ini durian di Desa Ketaon lagi tidak musim atau berbuah. Hujan terus menerus, tanpa panas atau biasa disebut 'ra ono mongso  ketigo' oleh mbah saya. Kalau hasil tani udah pada tahu lah ya, pasti kan padi yang ujungnya jadi nasi dipiring kita, dan bisa dibilang sangat berlimpah. Karena posisi Desa Ketaon juga dekat dengan Hutan Pinus, masyarakat sana juga berprofesi sebagai penyadap. Bukan penyadap KPK tapi, penyadap getah pohon pinus maksudnya.

Hutan Pinus, Kecapi

Kalau mau belanja di sini, jangan harap ada pasar tiap hari. Pasar cuma ada di hari-hari tertentu. Biasanya cuma ada di hari Minggu, Selasa dan Jumat. Tapi, kalau butuh keperluan harian mah ya ada terus tiap hari kan ada warung juga, dan ada satu warung harganya benar-benar 'ngga kontrol murahnya, rasanya kalau belanja jajanan di sana pengen beli semuanya. Warung Pak Marsudi, asli murahnya (Maaf, pak. Tolong kirim bengbeng 5 karton ke rumah Mbah Manten, karena warung bapak udah saya iklanin) bikin khilaf. Selisih harga bisa sampai Rp 2.000,- dibanding warung lain.

Nah, ini bagian yang pahit. Yang jelek-jeleknya juga pasti akan saya tulis. Karena semua itu harus berimbang, ngga cuman yang manis doang tapi yang pahit juga akan saya bahas. Tapi ini murni pendapat saya sebagai pendatang dan tentunya sudah saya bicarakan dengan orang asli dari wilayah Desa Ketaon ini. Sejauh mata memandang, memang namanya di desa tentu gotong royong terlihat lebih kental daripada di Jakarta, yang memang sebagai ibukota yang terkenal akan sifat individualismenya. Tapi, kalau di Desa Ketaon, saat ini azaz gotong royong memang masih ada namun rasanya sudah mulai pudar dibanding dengan beberapa waktu sebelumnya, dan hal ini diamini oleh beberapa penduduk asli di Desa Ketaon. Apakah karena ada pergeseran budaya? Jawabannya, iya. Tapi yang sangat mendasar adalah karena perubahan gaya hidup, dan masyarakat Ketaon pun saat ini menjadi masyarakat yang cukup konsumtif. Mengapa sebagai pendatang saya bisa berpendapat seperti itu? Karena, ketika ada yang tengah mengobrol seringkali saya melakukan pengamatan sederhana. Mereka kerap kali mengeluh masalah keuangan, bahkan me"mampu"kan dirinya untuk melakukan pinjaman ke bank. Padahal, dahulu masyarakat desa menganggap bahwa meminjam uang ke bank adalah sebuah hal yang memalukan, dan seringkali jadi bahan gunjingan. Satu sisi hal ini tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif. Hal ini berarti, masyarakat Desa Ketaon mulai berpikiran maju. Tapi ya, gitu... Seringkali salah kaprah. Mungkin kebanyakan nonton sinetron juga kali ya. Jadi apa yang mereka lihat, ya itulah yang mereka tiru. Akhirnya mereka akan selalu merasa kurang, kurang dan terus kurang karena mereka tidak menyadari nikmat yang sebenarnya ada di sekitar mereka. Itu bagi orang-orang yang sudah mulai menua. Bagaimana dengan anak mudanya?


Miris. Tidak keinginan untuk maju. Tidak keinginan untuk belajar. Seakan-akan keadaan mereka tidak mengizinkan mereka untuk belajar lebih luas. Mereka lebih memilih bekerja dibandingkan sekolah formal. Lazim sih, banyak desa yang anak mudanya berpikiran seperti itu. Namun, sayang juga ketika sebagian anak di desa tersebut punya fasilitas bahkan orang tuanya mampu untuk membiayai pendidikan mereka sampai jenjang yang lebih tinggi, namun mereka menyia-nyiakannya. Miris. Rata-rata dari mereka berpikir, bahwa sekolah selama sembilan tahun saja sudah cukup. Tapi, apa ya mungkin lulusan SMP jadi teller bank? Atau jadi polisi? Atau jadi tentara? Atau malah pilot? Kayaknya engga ada. Atau saya yang 'ngga pernah dengar? Banyak padahal yang saya lihat, anak-anak itu cerdas, tapi ya kembali lagi mungkin lingkungan mereka yang lebih mendewakan uang dibandingkan membiarkan mereka mendapatkan ilmu dan ketika ilmu yang mereka peroleh lebih banyak, maka saya rasa tidak akan sulit mendapatkan uang. 

Atau mungkin, karena tidak ada yang mengarahkan mereka juga? Entah. Tapi saya rasa alasan itu sudah tidak berlaku lagi, apalagi kalau mereka sudah melek teknologi. Anak muda di Desa Ketaon pun, bisa dibilang hampir semuanya paham bagaimana menggunakan internet. Hmm.. Ini harus saya survey lagi sepertinya dengan angket. Supaya saya tahu apa alasan mereka tidak melanjutkan pendidikan lebih jauh lagi.

Ada lagi yang lucu, nanti fotonya akan saya susulkan. ANAK KECIL NAIK MOTOR! Ini membuat saya tersinggung, haha.. Saya saja tidak fasih mengendarai sepeda motor. Kalau anak kecil di Desa Ketaon sudah berani kebut-kebutan di jalan. Bahkan bonceng ibunya, neneknya, kakeknya, kakaknya, atau anggota keluarga lainnya. Lucunya lagi, motor yang mereka gunakan juga terlihat lebih besar daripada badan mereka sendiri. Saya sampai pernah bertanya, 'kamu beneran bisa?' dan anak itu hanya mengangguk dan menggas-pol motornya di jalan setapak depan rumah mbah saya. Meninggalkan saya yang hanya geleng-geleng kepala. 


Itulah sekelumit kisah saya tentang Desa Ketaon. Desa tempat dimana bapak saya lahir, menjadi anak-anak dengan kisahnya yang selalu menarik untuk di dengar. Desa yang menjadi saksi nakalnya bapak saya ketika remaja, atau sampai dewasa, tapi untung sekarang udah ngga nakal. Tapi banyak juga yang sudah dilakukan bapak saya dan keluarganya untuk desa ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketaon juga membuat saya belajar akan kesederhanaan, belajar tentang menghormati sesama, belajar tentang tali persaudaraan yang erat, belajar menjadi manusia yang lebih manusia lagi. Ada plus ada minus, itu selalu terjadi dimana pun. Semoga kekeluargaan yang ada di desa ini, kedamaian yang ada juga selalu terjaga dengan baik, bukan malah terganti oleh nafsu duniawi, nafsu yang ingin memiliki segalanya, dan tidak tergerus arus budaya luar meskipun anak mudanya juga harus bisa terbuka dengan segala kemajuan dan mampu mengolah untuk membangun desa ini lebih baik lagi.

Kepungan
Alias
Makan Bersama
Ipin, Upin, Apin
Tiga Jagoan Anak Mbah Manten Pri
 
Bersama Adikku
Yang Menyebalkan
Duckface, Everywhere

Salam saya untuk Ketaon,

Putune Mbah Manten Pri
Tasya.

Comments

Popular posts from this blog

Review Sepatu : League Shoes seri Kumo Chi

Euforia Ke GIIAS 2017

My story : Eid Al-Fitr Edition