My story : Eid Al-Fitr Edition
Well hello there, fellas!
Udah lama banget saya engga nulis di blog ini, karena sebenarnya banyak ide tapi kuota internet terbatas, dan beberapa minggu ini rada malas untuk megang laptop. Oh ya, berhubung ini malam takbiran juga, so, saya mau ucapin : Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Batin. Semoga buat teman-teman yang berpuasa, amal & ibadahnya di bulan baik ini diterima oleh Tuhan yang Maha Kuasa.
Sebelumnya mau cerita dulu ya, hehe. Mungkin buat yang kenal sama saya akan bertanya-tanya kenapa saya menulis ini? Alasannya simple, saya mau bercerita bagaimana keluarga saya merayakan hari raya Idul Fitri. Langsung aja saya mulai ya!
So, ayah saya adalah seorang muslim. Yep, he's a moslem who married with my mom and as an information my mom is catholic. Jadi saya sudah terbiasa dengan perbedaan yang ada di rumah, dan, engga pernah ada masalah yang ribet karena perbedaan itu. Beda banget sama orang-orang yang ada di lingkungan luar keluarga. Even, all of my bude, pakde, tante dan oom saya adalah muslim yang taat. Tapi ya santai saja, karena menurut mereka masing-masing punya jalannya sendiri.
Saya sudah terbiasa dengan berbagai kegiatan keagamaan baik yang muslim maupun yang katolik, so, saya engga pernah kaget dengan adanya bulan suci ramadhan & idul fitri. Semua itu memberikan saya kebahagian, same as, when it's christmas. I enjoyed it! Jadi rasanya dalam setahun ada 2 hari raya besar dalam hidup saya, there's christmas but after that we celebrated Eid Al-Fitr. Double kebahagiaan kan? Hihi. Bagi umat muslim, sebelum merayakan hari raya Idul Fitri, mereka akan menjalankan ibadah puasa. Puasa adalah menahan segala hawa nafsu. Ingat, HAWA NAFSU. Jadi bukan cuma menahan lapar dan juga haus, tapi segala hawa nafsu termasuk rasa ingin marah, rasa jengkel, nafsu terhadap lawan jenis, dan ini yang susah untuk wanita menahan rasa untuk bergunjing alias gosip. Karena disadari atau enggak, bergunjing sudah menjadi bagian hidup seseorang. And, ayah saya, selalu mengajari saya untuk berpuasa dengan baik dengan cara menjauhi itu semua, dan itu cukup sulit sebenarnya. Apalagi menahan rasa marah & jengkel saat di jalan raya-ketika-menjelang-waktu-buka-puasa, why? Karena tiba-tiba semua orang berebut untuk sampai di tempat tujuan lebih awal untuk berbuka bersama keluarga, dan itu bikin macetnya bukan main. Selain itu, sahur adalah saat tersulit bagi saya. Bagaimana tidak, ketika kita tidur enak-enaknya, saat AC di kamar sedang dingin dan kasur terasa empuk sekali, tiba-tiba kita dibangunkan untuk makan sahur. Maka sambil makan, kita harus berjuang menahan rasa kantuk yang amat sangat.
Biasanya beberapa hari menjelang Idul Fitri saya, ibu, dan ayah saya akan berangkat menuju salah satu daerah di Jawa Tengah, atau bahasa kerennya adalah mudik. Biasanya, kami hanya mudik bertiga -berhubung kakak kakak lainnya sudah pada merantau dan tinggalah saya si bungsu yang sudah selesai merantau- dan mudiknya biasanya lewat jalur darat, alias bawa mobil pribadi. Untungnya, selama mudik belum pernah sih terjebak macet berhari-hari waktu mudik, he he he. Tradisi mudik ini menjadi suatu tradisi yang harus banget untuk dilakukan, karena menurut ayah saya, mudik, adalah cara manusia untuk menjalin silahturahmi pada keluarga dan tetangga sekitar. Dengan mudik kita jadi tahu saudara, ini tetangga, ini temennya si ini dan anu, bahkan gara-gara mudik banyak juga yang ketemu jodoh. Tapi, tahun ini sepertinya kita menunda acara mudik karena ayah saya masih mengurus beberapa pekerjaan penting. So, malam takbiran ini saya di rumah dan menghabiskan waktu untuk blogging, and my mom was cooking some meals for open house tradition. Open house atau bisa dikatakan acara berkunjung biasanya sangat seru, karena sering kali jadi ajang untuk ketemu orang yang sudah lama sekali tidak pernah ketemu, dan dilanjutkan dengan makan-makan. Ngobrol - makan - ngobrol - makan, lalu malamnya begah karena kekenyangan dan besok harinya berat badan yang udah turun belasan kilogram ini bisa-bisa naik beberapa kilo dan menyebabkan penyesalan yang teramat sangat. Hahaha. Apa sih yang biasa disajikan orang ketika menggelar acara open house? Kalau dalam keluarga saya, simple sekali. Ketupat edisi Idul Fitri, balado kentang dan ati sapi, opor ayam, dan rendang. Here's some picture of them :
So, that's my story. Banyak pelajaran yang saya ambil dari hari raya Idul Fitri, misalnya : setelah menahan hawa nafsu, akhirnya tibalah pada hari kemenangan. Itu sama kayak hidup, habis kalian susah (puasa itu susah guys, nahan yang buruk-buruk padahal yang buruk-buruk itu bisa jadi udah jadi kebiasaan dalam hidup kita sehari-hari) terus akhirnya sampai pada tujuan akhir, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, saat Idul Fitri adalah dimana kita saling silahturahmi satu sama lain. Ya, yang mungkin tadinya gontok-gontokan karena pilkada, harta, tahta, dan pasangan (mungkin) tiba-tiba bisa dapat semacam hidayah gitu untuk saling berbaikan. Sering saya ketemu momen menyentuh saat lebaran karena liat dua orang yang musuhan tiba-tiba saling berpelukan, minta maaf, bahkan kadang ada air mata-air mata haru gitu. But, thats a life. Anything can be happens, for some reason.
Ceritanya segitu aja kali ya. Hehe. Besok kayaknya mau nulis review tentang salah satu merk sepatu olahraga yang saya pakai untuk kegiatan sehari-hari. Karena sepatu ini nyaman banget. Okay, guys. Happy Eid Mubarok. Semoga puasanya berkah, banyak pahala, dan selalu berbuat kebaikan serta selalu menjaga silahturahmi dengan sanak keluarga juga teman-teman lainnya. Maafin juga kalau saya adalah salah-salah kata atau perbuatan baik yang disadari maupun engga. Happy holiday & stay healthy, y'all.
Udah lama banget saya engga nulis di blog ini, karena sebenarnya banyak ide tapi kuota internet terbatas, dan beberapa minggu ini rada malas untuk megang laptop. Oh ya, berhubung ini malam takbiran juga, so, saya mau ucapin : Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Batin. Semoga buat teman-teman yang berpuasa, amal & ibadahnya di bulan baik ini diterima oleh Tuhan yang Maha Kuasa.
![]() |
| Ilustrasi Suasana Takbiran [Sumber : google.co.id] |
Sebelumnya mau cerita dulu ya, hehe. Mungkin buat yang kenal sama saya akan bertanya-tanya kenapa saya menulis ini? Alasannya simple, saya mau bercerita bagaimana keluarga saya merayakan hari raya Idul Fitri. Langsung aja saya mulai ya!
So, ayah saya adalah seorang muslim. Yep, he's a moslem who married with my mom and as an information my mom is catholic. Jadi saya sudah terbiasa dengan perbedaan yang ada di rumah, dan, engga pernah ada masalah yang ribet karena perbedaan itu. Beda banget sama orang-orang yang ada di lingkungan luar keluarga. Even, all of my bude, pakde, tante dan oom saya adalah muslim yang taat. Tapi ya santai saja, karena menurut mereka masing-masing punya jalannya sendiri.
Saya sudah terbiasa dengan berbagai kegiatan keagamaan baik yang muslim maupun yang katolik, so, saya engga pernah kaget dengan adanya bulan suci ramadhan & idul fitri. Semua itu memberikan saya kebahagian, same as, when it's christmas. I enjoyed it! Jadi rasanya dalam setahun ada 2 hari raya besar dalam hidup saya, there's christmas but after that we celebrated Eid Al-Fitr. Double kebahagiaan kan? Hihi. Bagi umat muslim, sebelum merayakan hari raya Idul Fitri, mereka akan menjalankan ibadah puasa. Puasa adalah menahan segala hawa nafsu. Ingat, HAWA NAFSU. Jadi bukan cuma menahan lapar dan juga haus, tapi segala hawa nafsu termasuk rasa ingin marah, rasa jengkel, nafsu terhadap lawan jenis, dan ini yang susah untuk wanita menahan rasa untuk bergunjing alias gosip. Karena disadari atau enggak, bergunjing sudah menjadi bagian hidup seseorang. And, ayah saya, selalu mengajari saya untuk berpuasa dengan baik dengan cara menjauhi itu semua, dan itu cukup sulit sebenarnya. Apalagi menahan rasa marah & jengkel saat di jalan raya-ketika-menjelang-waktu-buka-puasa, why? Karena tiba-tiba semua orang berebut untuk sampai di tempat tujuan lebih awal untuk berbuka bersama keluarga, dan itu bikin macetnya bukan main. Selain itu, sahur adalah saat tersulit bagi saya. Bagaimana tidak, ketika kita tidur enak-enaknya, saat AC di kamar sedang dingin dan kasur terasa empuk sekali, tiba-tiba kita dibangunkan untuk makan sahur. Maka sambil makan, kita harus berjuang menahan rasa kantuk yang amat sangat.
Biasanya beberapa hari menjelang Idul Fitri saya, ibu, dan ayah saya akan berangkat menuju salah satu daerah di Jawa Tengah, atau bahasa kerennya adalah mudik. Biasanya, kami hanya mudik bertiga -berhubung kakak kakak lainnya sudah pada merantau dan tinggalah saya si bungsu yang sudah selesai merantau- dan mudiknya biasanya lewat jalur darat, alias bawa mobil pribadi. Untungnya, selama mudik belum pernah sih terjebak macet berhari-hari waktu mudik, he he he. Tradisi mudik ini menjadi suatu tradisi yang harus banget untuk dilakukan, karena menurut ayah saya, mudik, adalah cara manusia untuk menjalin silahturahmi pada keluarga dan tetangga sekitar. Dengan mudik kita jadi tahu saudara, ini tetangga, ini temennya si ini dan anu, bahkan gara-gara mudik banyak juga yang ketemu jodoh. Tapi, tahun ini sepertinya kita menunda acara mudik karena ayah saya masih mengurus beberapa pekerjaan penting. So, malam takbiran ini saya di rumah dan menghabiskan waktu untuk blogging, and my mom was cooking some meals for open house tradition. Open house atau bisa dikatakan acara berkunjung biasanya sangat seru, karena sering kali jadi ajang untuk ketemu orang yang sudah lama sekali tidak pernah ketemu, dan dilanjutkan dengan makan-makan. Ngobrol - makan - ngobrol - makan, lalu malamnya begah karena kekenyangan dan besok harinya berat badan yang udah turun belasan kilogram ini bisa-bisa naik beberapa kilo dan menyebabkan penyesalan yang teramat sangat. Hahaha. Apa sih yang biasa disajikan orang ketika menggelar acara open house? Kalau dalam keluarga saya, simple sekali. Ketupat edisi Idul Fitri, balado kentang dan ati sapi, opor ayam, dan rendang. Here's some picture of them :
| Opor Ayam, Sambel Goreng Ati & Rendang Sapi for lyfe #BYEDIET |
So, that's my story. Banyak pelajaran yang saya ambil dari hari raya Idul Fitri, misalnya : setelah menahan hawa nafsu, akhirnya tibalah pada hari kemenangan. Itu sama kayak hidup, habis kalian susah (puasa itu susah guys, nahan yang buruk-buruk padahal yang buruk-buruk itu bisa jadi udah jadi kebiasaan dalam hidup kita sehari-hari) terus akhirnya sampai pada tujuan akhir, yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, saat Idul Fitri adalah dimana kita saling silahturahmi satu sama lain. Ya, yang mungkin tadinya gontok-gontokan karena pilkada, harta, tahta, dan pasangan (mungkin) tiba-tiba bisa dapat semacam hidayah gitu untuk saling berbaikan. Sering saya ketemu momen menyentuh saat lebaran karena liat dua orang yang musuhan tiba-tiba saling berpelukan, minta maaf, bahkan kadang ada air mata-air mata haru gitu. But, thats a life. Anything can be happens, for some reason.
Ceritanya segitu aja kali ya. Hehe. Besok kayaknya mau nulis review tentang salah satu merk sepatu olahraga yang saya pakai untuk kegiatan sehari-hari. Karena sepatu ini nyaman banget. Okay, guys. Happy Eid Mubarok. Semoga puasanya berkah, banyak pahala, dan selalu berbuat kebaikan serta selalu menjaga silahturahmi dengan sanak keluarga juga teman-teman lainnya. Maafin juga kalau saya adalah salah-salah kata atau perbuatan baik yang disadari maupun engga. Happy holiday & stay healthy, y'all.

Comments
Post a Comment