Jadi Penulis Naskah, Menurut Kamu?

Penulis Naskah?

Ah... Yang bener? Kamu kerja aja belum!



Sebagai lulusan kampus jurnalistik, saya boleh berbangga diri. Setidaknya saya pernah belajar untuk terjun ke lapangan seperti reporter pada umumnya. Apalagi ada seragamnya, hitam-hitam, macam karyawan televisi swasta kebanyakan. Oh iya, tidak cuma itu. Kampus saya (dibaca : mantan) juga memberikan co-card atau yang dengan bangganya kadang kita sebut dengan kartu pers. Sensasinya pun macam kerja di televisi jadinya, karena setiap praktik kita dilepas di lapangan untuk langsung ketemu narasumber dan wawancara terkait topik yang mau diangkat. Menarik kan?

Nah, dari mulai praktik televisi dan radio baik yang hanya dilakukan program studi Manajemen Pemberitaan atau yang digabung dengan produksi lain, entah kenapa saya lebih sering menjadi penulis naskah. Saya enggan untuk menerima jobdesk lain, misalnya jadi produser atau pengarah acara. Alasannya sederhana, menurut saya menjadi produser dan pengarah acara itu sulit. Jadi seringkali ketika ditunjuk menjadi penulis naskah pun saya bersedia, atau bahkan terkadang malah saya sendiri yang meminta jadi penulis naskah. Banyak pengalaman seru ketika saya menjadi penulis naskah ketika kegiatan praktik yang harus dilaksanakan setiap semester. Misalnya, ketika saya menulis naskah untuk berita investigasi yang mengangkat mengenai Trend Behel. Berawal dari cerita bahwa ada seorang remaja yang meninggal dunia akibat kanker mulut yang dipicu penggunaan behel yang tidak sesuai, saya dan teman-teman berkonsultasi denga dosen dan ternyata disetujui. Ribut sana-sini cari narasumber, lalu meminta kesempatan wawancara dokter gigi, akhirnya data pun siap untuk saya olah menjadi sebuah naskah. Awalnya bingung, bagaimana ini? Rumit sekali karena terlalu banyak data yang diperoleh dari teman-teman. Kemudian saya lakukan teknik scanning atau membaca secara cepat. Entah mengapa, ketika saya membaca dengan teknik ini saya lebih mudah memahami daripada saya harus membacanya terus menerus dan mengulang-ulang bacaan yang sama. Kemudian saya mulai membuat naskah, tentu harus menggunakan teori. Mengapa? Pertama, karena ini untuk tugas kuliah. Pasti ketika preview akan ditanyakan mengapa kamu menulisnya begini begitu dan seterusnya. Kedua, membuat saya semakin hafal mengenai teknik menulis naskah radio dan televisi. Naskah radio dan televisi itu sangat berbeda. Sebagai penulis naskah radio, saya merasa memiliki tugas untuk membangun theater of mind dari pendengar agar pendengar semakin merasa bahwa mereka tengah berada dalam lingkungan yang kita ceritakan karena radio tidak memiliki visual. Sedangkan untuk naskah televisi, penjabaran tidak perlu dilakukan dengan begitu mendalam. Alasannya karena televisi tak hanya menghasilkan audio tapi juga visual sehingga lebih lengkap. Karena itulah, saya mulai menjelaskan dalam naskah investigasi radio ini bagaimana kondisi tempat ahli gigi itu bekerja, bagaimana perlengkapan yang digunakan, dan beberapa penjelasan mengenai kondisi behel yang dipasangkan. Setelah preview, ternyata dosen puas dengan naskah yang telah dibuat. Kali itu ekspresi saya hanya tersenyum, dan berkata dalam hati "okay, sepertinya saya semakin suka untuk membuat naskah".

Kejadian praktik Investigasi di semester 7 ini membuat saya semakin yakin untuk menjadi penulis naskah untuk bahan skripsi saya. Tentunya dengan membuat sebuah karya juga. Setelah menentukan program, akhirnya saya dan teman-teman yang telah memilih jobdesknya mengambil program dokumenter televisi. Termasuk pilihan yang cukup berani sepertinya, karena membuat dokumenter sebenarnya sulit juga. Lalu yang menjadi poin saya adalah "Penerapan Tangga Dramatik dalam Naskah Dokumenter Televisi". Luar biasa sekali! Ternyata pilihan saya cukup sulit!

LAH KOK SULIT? KENAPA EMANG?

Iyalah, ternyata buku mengenai penulisan naskah cukup sedikit. Tak hanya itu, materi untuk tangga dramatik pun juga jumlahnya tidak banyak, dan sulit sekali mencarinya. Waktu itu saya berpikir, "okay, i choosed the wrong title". Beruntung, malam itu ketika sedang buntu saya iseng-iseng googling dan akhirnya menemukan teori mengenai tangga dramatik. Esoknya pun saya mendapatkan buku tentang tangga dramatik. Kemudian berbekal teori yang saya dapatkan, saya mulai menulis naskah kasar. Kenapa naskah kasar itu perlu? Ibarat sebagai draft, outline, atau patokan pengembangan dari gambar yang akan diambil. Jadi dari naskah kasar itu kita juga berguna untuk membantu pengarah acara dalam menentukan gambar. Nah, naskah kasar itu idenya dari mana? Tentu sebelum menentukan ide, topik, angle, dan sub anglenya kita akan melakukan observasi serta wawancara sedikit. Dari situlah kita membuat naskah kasarnya dan naskah ini belum bersifat permanen, karena masih dapat berubah sesuai dengan perkembangan di lapangan. Begitu juga treatment yang dibuat. 
Bolak-balik dari kota tempat kampus saya berada - kota tempat narasumber saya tinggal menjadi sebuah keharusan. Karena ada beberapa yang belum selesai untuk dikerjakan. Resiko memang. Kemudian naskah pun terus berubah, sesuai dengan anjuran dosen. Pening kadang, apalagi, tak hanya membuat naskah saya pun harus membuat transkrip wawancara dengan narasumber. Bayangkan mendengar rekaman terus menerus selama 50 menit. Bukan hanya seorang tapi beberapa orang. Luar biasa sekali. Tak hanya itu, selesai dengan urusan membuat naskah, saya juga harus menjelaskan tangga dramatik dalam naskah itu, bagaimana bagan naik turun situasi dalam naskah itu. Pokoknya kalau ingat rasanya itu gurih-gurih nyoy. Tapi ya sekarang sudah bahagia, karena itu merupakan kerja keras yang tidak akan saya lupakan.

JADI LEBIH SUKA MANA, ANTARA JADI PENULIS NASKAH TELEVISI ATAU RADIO?

Kalau saya, lebih suka menjadi penulis naskah radio. Alasannya, saya dapat lebih mengeksplor apa yang akan saya sampaikan. Tapi, menulis naskah televisi pun mempunyai tantangan yang hampir mirip kesulitannya. Perbedaannya adalah ketika naskah radio harus membangun theater of mind pendengarnya, ketika menulis naskah televisi kita tidak perlu terlalu rinci dalam memberikan penjelasan namun berusaha bagaimana gambar yang sudah bagus tetap sejalan dengan naskah yang ada, tidak terkesan menggurui serta mempertajam informasi sekaligus menjaga agar tidak membosankan ketika ditonton oleh pemirsa (nah lho?). Karena dalam radio dan televisi, pemirsa yang menikmati siaran kita punya hak penuh untuk tetap menonton atau mendengar dan mematikan atau memindah ke siaran atau channel lain yang mereka anggap lebih baik. Atau kalau pengalaman saya di kampus, ketika acara mu tidak menarik maka dosen akan enggan untuk berkomentar atau bahkan dihabiskan sekalian di depan teman-teman yang lain.

Menyenangkan memang menjadi penulis naskah. Apalagi ketika hasil akhirnya ternyata disukai orang lain. Rasanya seperti pecah bisul, lega. Meskipun saya belum terjun langsung di lapangan pekerjaan menjadi seorang penulis naskah, tapi saya kira situasinya mungkin tidak akan jauh berbeda. Saya rasa belajar menulis saya kali ini cukup panjang. Besok mungkin saya akan belajar menulis sebuah review. Review apa belum tahu, tapi saya akan mencoba membuat sebuah review. Saya cukupkan cerita saya, terima kasih buat yang sudah mampir di blog saya ini, dan saya minta maaf kalau ada kalimat atau pemikiran saya yang salah. Namanya juga belajar, ya kan?

Comments

Popular posts from this blog

Review Sepatu : League Shoes seri Kumo Chi

Euforia Ke GIIAS 2017

My story : Eid Al-Fitr Edition