Hari Pertama Setelah jatuh di kebon belakang rumah
Cedera ankle itu apa sih? Cedera engkel atau ankle sprain adalah luka akibat dari peregangan, yang merobek sebagian atau keseluruhan ikatan sendi pada tulang sendi mata kaki. Ikatan sendi adalah kumpulan urat yang kuat dan fleksibel yang terhubung dengan tulang-tulang. Tendon menghubungkan otot-otot dan tulang-tulang. And, thanks God, berarti kaki saya engga patah. Biasanya kalau orang awam, keseleo model gini maka akan langsung dipijit. Saat itu juga. Engga pake ba-bi-bu langsung pencet. But, not in this case, once again thanks to my daddy. Bokap sama sekali engga ngebolehin kaki saya buat disentuh tukang pijit, biarpun orang-orang sana pada nyaranin pijit aja. Sehari sakit besoknya udah sembuh. Padahal itu cara penanganan yang salah. How you handled ankle sprain is with RICE (Rest, Ice, Compression, and Elevation) Method.
REST
Mengistirahatkan bagian yang cedera. Hal ini berarti kurang-kurangin menggunakan bagian tubuh yang cedera yang kemudian membuat saya harus lebih sering duduk atau tiduran. Which means, me being princess all day long selama beberapa waktu karena engga boleh kesana kemari bahkan nyetir mobil (YA IYALAH, JALAN AJA NANGIS APALAGI NYETIR MOBIL!)
ICE
Langkah ini dilakukan dengan cara mengompres bagian tubuh yang cedera dengan es. I wish i could compressed my injured-ankle with some ice cream, but, i can't do that. Jadi di kompres pake es biasa yang ditaruh di kain. Tujuannya ngurangin nyeri dan bengkak. Tapi buat saya sama aja soalnya tetep nyeri dan bengkak biarpun ngompresnya setiap 20 menit sekali.
Compression
Lihat di foto kaki saya pakai perban elastis kan? Nah, itulah yang dimaksud dengan compression yaitu menekan bagian yang cedera dengan perban elastis. Tujuannya, mengurangi bengkak dan mungkin biar sendinya engga ngaco. Karena emang kalau tanpa bebat sakitnya semakin menjadi-jadi. SERIUS.
Elevation
Meninggikan daerah yang cedera. Supaya daerah yang cedera itu kan aliran darahnya pasti terganggu, nah, ini tujuannya supaya semakin lancar aliran darahnya.
Ini wajib dilakuin kalau kalian cedera, jangan main asal pijit. Karena logikanya, pakai steps yang benar aja masih sakit-banget-parah-sampai-kadang-ingin-berkata-kasar apalagi main pencet sembarangan. Belum lagi kemungkinan semakin parahnya cedera seseorang kalau main asal pencet. Saya lakuin ini sampai 2 mingguan, setelah agak mendingan baru berani pijit, itu pun engga kuat sakitnya dan mungkin ini juga letak kesalahan saya.
Setelah beberapa bulan, kaki yang saya pikir udah normal buat aktifitas harian ternyata masih sering tiba-tiba ngilu. Well, engga ngilu kayak waktu dulu, cuma tau-tau 'snut... snut...' gitu. Tapi engga saya rasa, karena waktu sibuk skripsi dan lain-lain. Jadi paling cuma gosok-gosok pake counterpain. Apalagi kalau dipakai jalan jauh, misalnya, keliling mall pas lagi banyak sale, selain dompet yang sakit ternyata begitu duduk atau beristirahat alias mau tidur bengkak. Paling ya obatnya, kompres pake es batu. Tapi semakin lama kok semakin annoying. Beberapa waktu terakhir, pas diajak nyokap ke Pasar Baru dan jalan rada jauh, sakitnya sampai ke pinggang kanan bagian bawah (bagian atas pantat). Mampus. Takut banget. Asli. Setelah cerita ke nyokap dan bokap, akhirnya diajak saya buat konsultasi ke bagian fisioterapi. Karena bokap curiga, jangan-jangan karena ada masalah dari ankle, dan, tebakannya benar. Selain karena dipijit padahal kondisi urat belum seratus persen pulih, menopang beban badan yang berat (akhirnya saya memutuskan buat diet), dan pemilihan alas kaki yang kurang tepat. Jadi sepulang dari situ, saya diwajibkan untuk mulai disiplin pakai alas kaki yang empuk tapi penampang sol bawah sepatu atau sandalnya tetap kuat.
Keteledoran saya pun kumat. Hampir 3 minggu yang lalu, saya main-main ke Jakarta Fair. Jalan dari ujung ke ujung. Khilaf lihat diskonan sampai dompet jebol. Akhirnya, terasa juga bagian pantat atas kok sakit lagi, kaki juga mulai nyeri engga karuan. Karena engga betah akhirnya, bilang ke bokap dan nyokap daaaaaan.... diomelinlah karena teledor udah tahu gitu malah pakai sandal jepit ala kadarnya. Emang dasarnya rezeki anak solehah. Duduklah saya di emperan depan stand League sportwear di Jakarta Fair kalau engga salah yang di bagian Gambir Expo. Sambil istirahat lalu dengan tekad yang bulat saya masuk ke sana. Tujuan awalnya lihat-lihat. Kok bagus-bagus ya modelnya. Engga kalah sama sepatu merk retail internasional yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal. Awalnya mata saya tertarik banget sama sepatu ini.
League Kumo Chi - Series
Black
Pegang sana sini, rasa-rasain sentuhan material sepatunya. Not bad. Produk lokal dengan harga terjamin dan model yang keren gini rasanya bersaing juga. Nilai plus buat saya adalah, dia engga waktu mau dipake karena tinggal tarik aja tali tengahnya. Selain itu enteng juga sepatunya. Tapi saya belum coba karena emang tidak ada niat untuk beli, soalnya, waktu itu sebenarnya lagi kumpulin duit buat beli sneakers 'centang' yang full-white dan harganya jauh lebih mahal dari ini. Kalau tidak salah sih di jakarta Fair harganya Rp 549.000,-. Pikir lagi, tapi ini empuk juga in-solenya. Cocok buat kaki kanan saya yang bermasalah. GALAU. Ya, namanya juga cewe. Akhirnya diskusi sama orang tua, dan saya memutuskan untuk beli. IYA, GUE AKHIRNYA BELI. Ludes sudah. Eh, engga ding. Anggap aja itu hadiah dari bokap nyokap (thanks for both of you, i love you). Pilihan warnanya waktu itu ada 3 yaitu, hitam polos, merah, dan biru pastel kalau engga salah. Akhirnya pilihan saya jatuh sama yang warna ini :
League Kumo Chi - Series
Red
IDR 549.000,-
Oh iya, saya pakai sepatu ini ukuran 41. Padahal, biasanya kalau pakai sepatu dari merk retail lainnya saya pakai 40. Entah kenapa. Yang pasti memang kata pramuniaga di tokonya bilang, kalau beli sepatu league pasti ukurannya dari satu nomor daripada nomor sebelumnya. Mungkin, League, pakai size 40 tapi 40 kecil. Awalnya ragu, cuma waktu tetap ngotot minta ukuran 40 ternyata nge-press sekali di kaki saya, dan saya ambil yang ukuran 41. First impression waktu pakai, nyaman! Sepatunya ringan, insol-nya empuk, dan yang penting engga bikin kaki saya keringetan dan bau. Itu penting. Engga lucu kan lagi buka sepatu terus kakinya bau karena sirkulasi udara di sepatu kurang bagus. Masa cewe kakinya bau. Bikin hilang selera aja.
My Shoes
League Kumo Chi Series
Red
Cuma ada satu hal yang ganggu dari produk ini, pengeleman sepatu ini termasuk kurang rapi dan list merah di bagian pinggir sepatu juga kurang rapih, rada mencong-mencong. Apa mungkin saya pas dapat batch yang pas bagian lem dan garisnya kurang bagus? Entahlah. Tapi semua itu ketutup lah sama kenyamanan sepatu Kumo Chi ini. Dari angka 10, saya kasih angka 7 buat kenyamanan sepatu ini. Semenjak pake sepatu ini juga kalau jalan jauh engga pernah tuh namanya sakit-sakit lagi baik bagian pergelangan kaki atau pantat kanan atas karena kecapekan.
So, overall semua pilihan tergantung kalian mau tetap pake produk retail internasional atau mau coba produk anak bangsa. Banyak kok sepatu produk lokal yang bagus, cuma ya, mungkin kalah prestige aja kali ya. Cuma pesan saya sih, daripada pake sepatu KW kok, malu ya. Mending pake ini ketimbang pake YEEZY KW yang ada rame di online shop. He he he. Okay, cukup segitu dulu review tentang sepatu League - Kumo Chi yang saya beli di Jakarta Fair. Nanti saya akan membahas sesuatu yang lebih asyik & seru di postingan saya selanjutnya. Salam!
|
Comments
Post a Comment